cerpen berhadiah

Cerpen berikut dikirim dalam acara ice cream Moo dan berhadiah Sepeda Moo.

SEPEDA HIAS 17 AGUSTUS 2009

 

Setiap menjelang peringatan hari kemerdekaan RI, warga komplek perumahan kami mengadakan berbagai lomba.  Salah satu lomba bagi anak-anak adalah lomba sepeda hias.  Pada lomba ini, anak-anak diminta untuk menghias sepedanya masing-masing kemudian bersama-sama dikayuh mengelilingi komplek perumahan kira-kira sejauh 1 km.  Selesai berkeliling, juri mengumumkan pemenang sepeda hias dan memperoleh hadiah yang biasanya berupa peralatan sekolah.

Pada peringatan hari kemerdekaan RI (kami di sini biasa menyebutnya tujuhbelasan) tahun 2009, Savana Biru, anak laki-laki semata wayang kami berusia 8 tahun, ikut meramaikan lomba sepeda hias.  Bersama teman-temannya menghias sepeda masing-masing.  Saya menawarkan ide untuk menghias sepedanya menggunakan kertas warna (di sini kami menyebut kertas krep), tapi dia bilang “Bosan Bunda.  Tahun kemarin sudah pakai kertas krep.”  Saya jawab, “Kalau begitu, ayo cari ide lain.”  Sava masuk ke kamarnya dan mulai memilih mainannya untuk dipasang pada sepedanya.  “Bunda, aku punya ide.”  Dia mengambil layang-layang kain yang berbentuk burung berwarna merah.  “Pakai ini aja, dipasang di stang.”  Saya tahu apa yang diinginkan.  Segera saya mencarikan tali pengikat.  Kemudian dia bergabung dengan teman-teman lain yang sedang menghias sepeda masing-masing di teras rumah kami.  Hafez, Angga, dan Faris menghentikan pekerjaannya menghias sepeda menggunakan kertas krep.  Mereka memperhatikan Sava yang mulai memasang layang-layang burungnya.  Saya sedikit membantu dengan menarik kuat tali mengikat agar terpasang erat pada stang sehingga tidak membahayakan saat dikendarai.  Ketika pemasangan burung hampir selesai, teman-teman Sava sepertinya mulai mengerti maksud Sava kemudian mereka pamit pulang sambil berkata, “Aku yo ah (Aku juga ah).”  Ketika mereka kembali, Hafez membawa tempelan wajah badut dan Faris melepas tempelan Winnie the Pooh dari kamarnya, sedangkan Angga datang dengan tangan hampa karena tidak berhasil menemukan tempelan atau gambar yang dicari.  Setelah selesai memasang burung pada sepedanya, saya menawarinya lagi untuk ditambah dengan hiasan kertas krep seperti sepeda temannya yang lain.  “Enggak usah Bunda, ini aja.  Bagus kok.”  Setelah berempat selesai menghias sepeda masing-masing, saya membantu membersihkan sisa-sisa kertas dan memberesi alat-alat yang digunakan.  Setelah semua beres, mereka berempat mencoba sepeda hiasnya di lapangan depan rumah.

Saya dan suami bangga melihat anak kami tumbuh cerdas dan kreatif.  Dia mampu menggali ide dengan memanfaatkan barang-barang yang ada miliknya.  Memang saat pengumuman lomba, Sava tidak meraih juara tetapi kami akan menjaga semangatnya dengan prinsip: juara bukan hal penting tetapi keikutsertaan, berusaha yang terbaik, dan menjadi diri sendiri adalah lebih penting.  Tahun ini Sava akan mengikuti lagi lomba sepeda hias memeriahkan peringatan hari kemerdekaan negeri kami tercinta.